METROSIANTAR.COM,
DOLOK PARDAMEAN – Komoditi
pertanian di Simalungun memiliki potensi yang sangat baik. Tak hanya padi,
tanaman lain seperti sawit, karet, kopi, dan jeruk juga menjadi komoditi yang
diunggulkan di daerah tersebut.
Berangkat
dari sinilah, Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM memandang sektor pertanian
perlu digenjot supaya kian maju dan ikut menunjang perekonomian masyarakat di
Kab. Simalungun Sumatra Utara.
“Kita
mesti bergerak cepat untuk menghidupkan kembali sektor pertanian yang sempat
lesu,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke Nagori Sirube-rube, Kecamatan
Dolok Pardamean, Kamis (15/10)
Menurut
JR Saragih, saat ini para petani di Simalungun menghadapi kondisi yang kurang
menguntungkan, lahan yang terus terkikis, masalah irigasi, hingga minimnya
modal membuat sektor pertanian tak berjalan secara optimal seperti yang diharapkan.
Untuk itulah, pada 2016 mendatang, pembangunan sektor pertanian menjadi
prioritas, di samping pembangunan infrastruktur.
“Saya
membayangkan, Simalungun ini akan menjadi daerah percontohan dengan pertanian
yang maju. Jalan-jalan akan dibangun dengan konsep yang sejuk seperti jalan di
Singapura, Amerika, dan lainnya di mana di setiap sisi jalan berjajar banyak
pohon. Tak hanya itu, majunya sektor pertanian itu nantinya juga akan turut
ditopang dengan peningkatan ekonomi kreatif warga,” urainya.
Dikatakan,
majunya sektor ekonomi itu, sangat mungkin terjadi, ketika pertaniannya maju
terlebih dahulu.
“Tak
banyak yang tahu, kopi Simalungun ini dijadikan sebagai bahan utama minuman di
Perusahaan Starbucks. Yang jadi masalah adalah, selama ini proses pengolahan
kopi tak ditunaikan di Simalungun, melainkan dibawa ke kota lain, baru diangkut
ke Perusahaan Starbucks,” katanya.
Hal
itulah yang menurut Bupati perlu diperbaiki.
“Kita bisa membuat sendiri pabrik
pengolahan biji kopi, supaya hasil yang diperoleh bisa lebih memuaskan. Kita
punya sumber daya manusia yang banyak, lantas kenapa bukan warga kita sendiri
yang mengolah kopi tersebut,” imbuhnya.
Tak hanya
kopi, lanjut JR Saragih, jeruk juga bisa dijadikan komoditi unggulan dengan
strategi pencitraan (branding) yang lebih baik dan lebih menarik lagi. “Selama ini, kita tahunya jeruk
yang terkenal enak di Sumatera dihasilkan dari kebun-kebun di Medan, padahal
Simalungun juga memproduksi itu,” ungkapnya lagi.
Pembangunan sektor pertanian itu hanya bisa terjadi manakala warga memiliki pengetahuan dan kompetensi yang memadai.
“Untuk
itulah, dibutuhkan sinergitas segenap anasir masyarakat maupun pemerintah untuk
mengadakan bimbingan dan pelatihan misalnya. Dengan kerja sama yang sinergis
itu, diharapkan Simalungun bisa semakin maju. Tak akan lagi ada kondisi
pertanian lesu, petani mengeluh karena tak mampu ke sawah, dan lainnya,”
pungkas JR Saragih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar